Pages

Selasa, 09 Desember 2014

MAKALAH KADAR AIR LAPORAN






KADAR AIR
(Laporan Praktikum Biokimia)




             



Oleh :
JURKANI
(E1A213070)
 KELOMPOK I












PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU


2014




 PENDAHULUAN
Kadar air suatu tanaman adalah merupakan  persentase kandungan air pada suatu bahan yang dapat dinyatakan berdasarkan berat basah (wet basis) atau berdasarkan berat kering (dry basis). Kadar air berat basah mempunyai batas maksimum teoritis sebesar 100 persen, sedangkan kadar air berdasarkan berat kering dapat lebih dari 100 persen.  (Purbayanti, 1991).
Air memiliki banyak fungsi bagi pertumbuhan tubuh tanaman. Salah satunya, yaitu berfungsi untuk melarutkan unsur-unsur hara yang terserap. Manfaat yang begitu besar, sehingga air sering disebut faktor pembatas dari pertumbuhan dan perkembangan tanaman (Syarif dan Halid, 1993).
Air memegang peranan terpenting dalam proses perkecambahan biji. Air adalah faktor yang menentukan di dalam kehidupan tumbuhan. Tanpa adanya air, tumbuhan tidak bisa melakukan berbagai macam proses kehidupan apapun. Kira-kira 70% atau lebih daripada berat protoplasma sel hidup terdiri dari air. Dalam keadaan kesulitan bahan pangan dan air, manusia mungkin dapat tahan hidup tanpa makan selama lebih dari 2 bulan, tetapi tanpa minum air ia akan meninggal dunia dalam waktu yang kurang dari seminggu (Nur Faridah, 2003).
Kandungan air beberapa bahan makanan yang umum seperti terlihat pada Tabel.1 menunjukkan bahwa banyaknya air dalam suatu bahan tidak dapat ditentukan dari keadaan fisik bahan tersebut.  Misalnya buah nenas seakan-akan mempunyai kandungan air yang lebih besar dari pada kol. Kandungan air pada susu lebih besar dari kacang hijau, sedangkan susu bubuk dan terigu seakan-akan tidak mengandung air.

Tabel 1. Kandungan air beberapa komoditi.
Bahan
Kadar air
Ikan teri kering
38%
Daging sapi
66%
Roti
36%
Buah kering
28%
Susu bubuk
14%
Tepung terigu
12%
Tomat
94%
Semangka
97%
Kol
92%
Nenas
85%
Kacang hijau
90%
Susu sapi
88%

Sampai sekarang belum diperoleh suatu istilah yang tepat untuk air yang terdapat dalam bahan makanan. Istilah yang umumnya dipakai hingga sekarang ini adalah air terikat (bound water). Walaupun sebenarnya istilah ini kurang tepat karena keterikatan air dalam bahan berbeda-beda bahkan ada yang terikat. Karena itu, istilah air terikat ini dianggap sebagai suatu sistem yang mencangkup air yang mempunyai derajat keterikatan berbeda-beda dalam bahan ().
Menurut derajat keterikatan air, air terikat dapat dibagi atas empat tipe yaitu :
1.    Molekul-molekul air membentuk ikatan hydrogen dengan molekul yang lain.
2.    Molekul air yang terikat pada molekul-molekul lain melalui suatu ikatan hydrogen yang berenergi besar.
3.    Molekul yang secara fisik terikat dalam jaringan matrik dalam membran, kapiler, serat dan lainnya.
4.    Molekul yang tiidak terikat dalam suatu bahan.
Sedangkan pada tanaman berat basah adalah berat bahan mula-mula berat  kering adalah berat bahan setelah dilakukan pengeringan pengeringan ini  dapat di lakukan dengan cara mengoven bahan sehingga seluruh airnya menguap. Saat air menguap, otomatis berat bahan akan berkurang. Jumlah pengurangan ini dianggap sebagai selisih antar berat basah dan berat kering perbandingan dari pengurangan  berat dan berat  awal inilah yang kemudian diubah menjadi persen dan kadar air ditemukan pada organ tumbuhan. Kadar air sangat bervariasi, tergantung dari jenis tumbuhan, struktur dan usia dari jaringan organ. Pada tumbuhan herbal, salah satunya Spinacia oleracea (bayam) yang tidak memiliki kambium, tumbuhan dapat tegak sepenuhnya hanya karena turgor. Tekanan turgor ini disebabkan oleh kandungan air. Sehingga kadar air yang tinggi didominasi oleh batang (Nur Faridah, 2003).
Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah :
1.   Untuk mengetahui perbedaan kadar air pada organ tanaman yang berbeda
2.   Untuk  mengetahui hubungan tingkat kematangan organ tanaman dengan kadar air.


BAHAN DAN METODE
Alat dan Bahan
Alat :
            Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah oven dan timbangan/neraca analitik.
Bahan :
            Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah; Amplop 9 Buah tomat hijau, tomat kuning, tomat merah, cabe hijau, cabe kuning, cabe merah, daun kacang pucuk, daun kacang dewasa, dan daun kacang senescence.
Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Kamis dan Jum’at tanggal 02 dan 03 Oktober 2014, pada pukul 15.00 WITA. Bertempat di Laboratorium Analisis Kimia Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru.
Prosedur Kerja
1.      Timbang amplop kosong (distandarkan)
2.      Timbang amplop kosong + bahan segar.
3.      Masukkan kedalam oven dengan suhu 110o C selama 24 jam.
4.      Timbang amplop + bahan kering
BB bT = hasil nomor 2 dikurang hasil nomor 1.
BK bT = hasil nomor 4 dikurang hasil nomor 1.
Keterangan : BB (Berat Basah)
BK (Berat Kering)
bT (Bahan Tanaman)
KA (%) = BB bT – BK bT x 100 %
BB bT















HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
            Hasil pada praktikum ini adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Hasil pengujian kadar air.
No
Nama bT
BB (gram)
BK (gram)
KA (%)
1
Tomat hijau
69,67
 10,68
90 %
2
Tomat kuning
20,30
 5,10
97 %
3
Tomat merah
10,98
 5,00
76 %
4
Cabe hijau
 12,65
 5,74
86 %
5
Cabe kuning
 6,59
 5,44
58%
6
Cabe merah
 14,39
 5,60
89 %
7
Daun kacang pucuk
 5,82
 5,40
56 %
8
Daun kacang dewasa
 5,54
 4,78
80 %
9
Daun kacang senescence
 5,66
 5,10
59 %

Grafik 1. Kadar Air Tomat.
Grafik 2. Kadar Air Cabe.





Perhitungan analisi kadar air tanaman :
a.       Tomat Hijau
BB bT  = 69,67 - 4,60 = 65,07
BK Bt = 10,60 - 4,60 = 6,08                                                        
b.      Tomat Kuning
BB bT  = 20,30 - 4,60 = 15,70
BK bT  = 5,10 - 4,60 = 0,50
c.       Tomat Merah
  BB bT  = 10,98 - 4,60 = 6,38
  BK bT = 5,00 - 4,60   = 1,50
d.      Cabe Hijau
BB bT  = 12,56  - 4,60 = 8,05
BK bT  = 5,74 - 4,60 = 1,14
                                    
e.       Cabe Kuning
BB bT  = 6,59  - 4,60 = 1,99
BK bT = 5,44 – 6,40 = 0,84
f.       Cabe Merah
BB bT  = 14,36  - 4,60 = 9,79
BK bT = 5,60 – 4,60 = 1
g.      Daun Kacang Pucuk
BB bT  = 5,54  -  4,60 = 1,22
BK bT = 5,40  -  6,40 = 0,8
h.      Cabe Kacang Dewasa
BB bT  = 5,54  - 4,60 = 0,94
BK bT = 4,78 – 6,40 = 0,18
i.        Cabe Kacang Senesence
BB bT  = 5,66  - 4,60 = 1,06
BK bT = 4,10 – 6,40 =  0,5

                                                                                 


Pembahasan
Dari hasil praktikum ini dapat disimpulkan bahwa, berat awal dari amplop adalah 4,60 gr. Sebelum dioven masing-masing amplop yang berisi bahan tanaman ditimbang dengan hasil berat kemudian dikurang dengan berat awal amplop sehingga mendapatkan hasil dari sampel masing-masing yaitu tomat hijau 65,07 gr, sampel tomat kuning  15,71 gr, sampel tomat merah 6,38 gr, sampel cabe hijau 8,05 gr, sampel cabe kuning 1,99 gr, sampel cabe merah 9,71 gr, sampel daun kacang pucuk 1,22 gr, sampel daun kacang dewasa 0,94 gr dan berat sampel daun kacang senesence 1,06 gr. Semua sampel di oven dengan suhu 110°C selama 24 jam. Setelah di oven timbangan masing-masing sampel berubah dari sebelumnya berat tersebut disebut dengan berat akhir sampel yang dikurang berat awal amplop yaitu berat sampel tomat hijau ialah 6,08 gr, sampel tomat kuning  menjadi 0,5 gr, sampel tomat merah menjadi 1,50 gr, sampel cabe hijau menjadi 1,14 gr, sampel cabe kuning menjadi 0,84 gr, sampel cabe merah menjadi 1 gr, sampel daun kacang pucuk menjadi  0,8 gr, sampel daun kacang dewasa menjadi 0,18 gr, dan berat berat sampel daun kacang senesence menjadi 0,5 gr.
Dengan menggunakan rumus :

Rumus tersebut digunakan untuk mengetahui kadar air dalam persentasi sehinggga didapat hasil analisis kadar air pada masing-masing tanaman. Pada sampel tomat hijau  90 %, sampel tomat kuning  97 %, sampel tomat merah 76 %, sampel cabe hijau 86 %, sampel cabe kuning 58 %, sampel cabe merah 89 %, sampel daun kacang pucuk 56 %, sampel daun kacang dewasa  80 % dan berat sampel daun kacang senesence 59 %.
Dari hasil praktikum ini juga dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan yang besar antara berat sampel yang belum dioven dan yang telah di oven. Dimana perbedaan ini berat lebih besar sebelum dilakukannya pengovenan, dan setelah dioven berat lebih kecil dibandingkan dengan berat yang awal. Disini terjadinnya penyusutan  berat pada masing-masing sampel, yang terjadi karena kadar air yang terdapat pada masing-masing sampel menguap pada saat di oven.








                                                     KESIMPULAN                    
Kesimpulan dari praktikum ini adalah :
1.   Masing-masing sampel yang di uji mempunyai kadar air yang berbeda-beda.
2.   Pada buah-buahan mempunyai kadar air yang lebih banyak dari pada dedaunan.
3.   Kadar air akan lebih tinggi ketika bagian tanaman masih muda.


















DAFTAR PUSTAKA
Faridah, Nur. 2003. qlikers.wordpress.com/Makalahq Fungsi Air/ - Tembolok – Mirip. Diakses pada tanggal 14 Oktober 2011.

Purbayanti   E.  D   dan   Andani,   Sri.  1991.   Fisiologi   Lingkungan   Tanaman. Yogyakarta:  Gadjah Mada University Press.
Syarif dan Halid, 1993. Ikhtisar Biokimia Dasar. FKUI. Jakarta.





















DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel1. Hasil Pengujian Kadar Air..............................................................        6























DAFTAR GRAFIK
Halaman
Grafik 1. Kadar Air Tomat..........................................................................        6    
Grafik 2. Kadar Air......................................................................................        7
Grafik 3. Kadar Air......................................................................................        7








Tidak ada komentar:

Posting Komentar