Pages

Minggu, 08 Juni 2014

makalah pohon ulin

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Degradasi hutan Indonesia terus berlanjut, dengan demikian maka Indonesia terancam kehilangan berbagai macam pohon hutan yang sangat bermanfaat untuk generasi yang akan datang. Kegiatan eksploitasi hutan alam yang bersifat ekstraktif guna memenuhi kebutuhan manusia menyebabkan kemerosotan secara kualitas maupun kuantitas sumberdaya hutan, jenis maupun ekosistem, tidak terkecuali ulin. Ulin merupakan salah satu jenis pohon yang hampir punah sebagai akibat dari tingginya laju penebangan yang dilakukan secara legal maupun illegal oleh masyarakat maupun perusahaan (Siyasa, 2001).
Ulin (Eusideroxylon zwageri) merupakan salah satu jenis penyusunan hutan tropika basah yang tumbuh secara alami di wilayah Sumatera Bagian Selatan dan Kalimantan. Jenis ini dikenal dengan nama daerah : bulian, bulian rambai, onglen, belian, tabulin dan telian. Pohon ulin termasuk jenis pohon besar yang tingginya dapat mencapai 50 m dengan diameter samapi 120 cm, tumbuh pada dataran rendah sampai ketinggian 400 m dpl. Jenis kayu dari pohon ulin ini tidak mudah lapuk baik di air maupun daratan. Itulah sebabnya kayu ini banyak dipakai sebagai bahan bangunan khususnya untuk rumah yang didirikan di atas tanah yang tergenang. Tanaman ini sering di gunakan sebagai tiang bangunan, sirap, papan lantai, jembatan, bantalan kereta api dan kegunaan lain yang memerlukan sifat-sifat khusus awet dan kuat. Dalam rangka pengembangan tanaman ulin, diperlukan informasi dan kajian budidaya yang tepat sesuai dengan karakteristik tempat hidupnya (Mogea, 200l.)
Pohon Ulin merupakan tanaman khas Kalimantan yang keberadaannya saat ini sudah mulai langka dan jarang ditemui, hal ini disebabkan oleh penebangan liar yang memanfaatkan pohan tersebut sebagai bahan bangunan, selain itu pertumbuhan tanaman ini juga terbilang lambat rata2 pertumbuhan antara 0,60 – 3 m. Tanaman ulin pada umumnya memiliki tinggi diameter batang antara 60-120 cm, sedangkan tinggi batang pada umumnya berkisar antara 20-30 m. Batang tanaman ulin biasanya tumbuh lurus. Tajuk pohon tanaman ulin berbentuk bulat, rapat dan melebar, susunan daun ulin beselangseling, daun muda berwarna merah dansetelah tua berwarna hijau (Sastrapradja, 1977).
Nama ulin meroket seiring dengan fungsinya yang meluas. Belakangan, begitu sulit menemukan pohon yang satu ini, meskipun di habitat asalnya, Kalimantan. Eksploitasi besar-besaran ulin di masa lalu membuat pohon ini musnah di beberapa negara, dan menjadikannya flora yang dilindungi di tanah air. Perdagangan dan pemanfaatannya mendapat pengawasan ketat dari pemerintah, karena ulin memiliki pertumbuhan yang lambat tak hanya pertumbuhan diameternya yang sangat lambat. Untuk mempercepat munculnya tunas, bijinya yang berukuran besar seperti buah mentimun dan keras sehingga perkecambahan memerlukan waktu yang sangat lama, sehingga untuk usahakomersial jenis ini kurang diminati, sementara besarnya minat masyarakat terhadap jenis ini sangat besar, sehingga dikhawatirkan jenis ini akan musnah, dengan demikian diperlukan usaha-usaha penanaman untuk pelestarian jenis tanaman ini (Mogea, 200l).

Dengan semakin langka dan proses pertumbuhan yang sangat lambat maka di harapkan masyarakat dapat menjaga kelestarian tanaman ini. Karna banyak hutan yang saat ini telah di eksploitasi sehingga kemungkinan akan mengalami degredasi yang dapat menyebabkan punahnya jenis tanaman ini (Siyasa, 2001).
Tujuan Praktikum
Tujuan dari penelitian ini adalah  untuk mengetahui  dan mengenal tentang pohon ulin yang menjadi ciri khas hutan Kalimantan.


Tinjauan Pustaka
Ulin atau disebut juga dengan bulian atau kayu besi adalah pohon berkayu dan merupakan tanaman khas Kalimantan. Kayu ulin terutama dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, seperti konstruksi rumah, jembatan, tiang listrik, dan perkapalan. Ulin merupakan salah satu jenis kayu hutan tropika basah yang tumbuh secara alami di wilayah Sumatera bagian selatan dan Kalimantan (Sastrapradja, 1977).
Ulin termasuk jenis pohon besar yang tingginya dapat mencapai 50 m dengan diameter sampai 120 cm . Pohon ini tumbuh pada dataran rendah sampai ketinggian 400 m. Ulin umumnya tumbuh pada ketinggian 5 – 400 m di atas permukaan laut dengan medan datar sampai miring, tumbuh terpencar atau mengelompok dalam hutan campuran namun sangat jarang dijumpai di habitat rawa-rawa. Kayu Ulin juga tahan terhadap perubahan suhu, kelembaban, dan pengaruh air laut sehingga sifat kayunya sangat berat dan keras (Mogea, 200l).
Proses pemuliaan alami di hutan bekas tebangan umumnya kurang berjalan dengan baik. Perkecambahan biji Ulin membutuhkan waktu cukup lama sekitar 6-12 bulan dengan persentase keberhasilan relatif rendah, produksi buah tiap pohon umumnya juga sedikit. Penyebaran permudaan alam secara umum cenderung mengelompok. Ulin tumbuh di dataran rendah primer dan hutan sekunder sampai dengan ketinggian 500m. biji ulin lebih suka ditiriskan baik tanah, tanah liat berpasir ke tanah liat, kadang-kadang batu kapur (Siyasa, 2001).
Di Kalimantan, kayu ulin sudah di pakai sebagai bahan utama untuk membuat rumah, khususnya dikalangan suku Dayak. Kayu ulin yang bagus untuk dijadikan bahan baku rumah ialah kayu ulin yang sudah tua. Semakin tua umur kayu ulin, semakin keras kayunya (Sastrapradja, 1977).
Saat ini kayu ulin sudah langka. Hal ini disebabkan oleh lambatnya pertumbuhan, tingkat keberhasilan perkecambahan yang kecil, serta pembalakan hutan liar. Dikhawatirkan jika tidak segera dilestarikan, kayu ulin akan punah.
Salah satu ciri khas tumbuhan Kalimantan adalah Kayu Ulin nya. Dahulu penduduk asli maupun pendatang, baik yang tinggal di pingiran hutan maupun tinggal di atas air dengan rumah panggungnya , memanfaatkan kayu ulin sebagai bagian utama dari tiang, lantai rumah, pagar, patok2 tanah, atap sirap dsb. Kayu ulin mempunyai keistimewaan yang khas yaitu selain keras, berat, juga tidak lapuk kena air bahkan justru lebih tahan lama. Ulin termasuk diantara kayu yang cukup tahan akan serangan rayap
(Siyasa, 2001).
 Seiring perjalanan waktu, maka kayu ulin sekarang ini sudah cukup sulit di dapat. Exploitasi penebangan kayu yang kurang terkontrol dimasa lalu, serta disebabkan pula adanya kebakaran hutan, membuat populasi pohon ulin menyusut drastis. Sebagian kayu ulin yang ada di toko kayu bahan bangunan berasal dari pohon ulin yang usianya relatif muda, Padahal untuk menyemai s/d pohon ulin siap di tebang membutuhkan waktu puluhan tahun (Siyasa, 2001).
Sejauh ini sepertinya belum banyak kemajuan dalam rekayasa pembudidayaan pohon ulin agar cepat tumbuh sebagai pohon bernilai tinggi. tidak seperti pohon jati yang kini ada varietas Jati Super yang konon sudah dapat di manfaatkan dengan waktu tanam sekitar dari 5 – 10 tahun saja. Namun Dep Hut bukannya tidak merintis kearah pembudi-dayaan Ulin. di sebagian daerah Kalimantan sudah ada usaha untuk pembudidayaan pohon Ulin. Salah satu pohon ulin terbesar di Dunia yang masih hidup berada di Taman Nasional Kutai +/- 40 Km dari Bontang dengan diameter +/- 2.7 Meter. Sayangnya pohon ini pernah patah dan sudah berlubang di tengahnya. Namun pohon tetap dijadikan monument hidup dari keberadaan pohon  ulin, khususnya di Kalimantan (Hakim, 2005)
Berkurangnya pasokan kayu ulin di pasaran maka ternyata juga menggeser penggunaan atau fungsi ulin dari sebagai bahan material bangunan, kearah yang menghasilkan nilai jual lebih tinggi seperti untuk pembuatan mebel2 dan ukiran2 serta souvenir khas motif dayak. Salah satu patokan tinggi rendahnya mebel atau karya ukir dari ulin adalah tingkat kerumitan motif, usia kayu dan lebar papan ulin yang digunakan. Semakin lebar papan ulin secara utuh, menunjukan semakin tua usia kayu tsb. dan otomatis semakin mahal pula harganya. Kisaran harga mulai dari sekitar 4 juta s/d Puluhan juta tergantung barang nya. Hal itu pula yang ternyata 7 tahun terakhir mulai diminati oleh sebagian peminat mebel2 kayu bermotif tradisional (Heyne, 2005)







PEMBAHASAN
lasifikasi ulin adalah sebagai berikut :
Kingdom          : Plantae
Divisi               : Spermatophytha
Sub divisi         : Angiospsermae
Kelas                : Monocotyl
Ordo                : Ranales       
Family             : Lauraceae
Genus              : Eusideroxylon
Species            : Eusideroxylon            zwageri
Ulin termasuk jenis pohon besar yang tingginya dapat mencapai 50 m dengan diameter sampai 120 cm. Pohon ini tumbuh pada dataran rendah sampai ketinggian 400 m, ulin umumnya tumbuh pada ketinggian 5 – 400 m di atas permukaan laut dengan medan datar sampai miring, tumbuh terpencar atau mengelompok dalam hutan campuran namun sangat jarang dijumpai di habitat rawa-rawa, kayu ulin juga tahan terhadap perubahan suhu, kelembaban, dan pengaruh air laut sehingga sifat kayunya sangat berat dan  keras.
Perkecambahan biji Ulin membutuhkan waktu cukup lama sekitar 6-12 bulan dengan persentase keberhasilan relatif rendah, produksi buah tiap pohon umumnya juga sedikit. Ulin tumbuh di dataran rendah primer dan hutan sekunder sampai dengan ketinggian 500m. Biji ulin lebih suka ditiriskan baik tanah, tanah liat berpasir ke tanah liat, kadang-kadang batu kapur. Hal ini umumnya ditemukan di sepanjang sungai dan bukit-bukit yang berdekatan. Hal ini membutuhkan rata-rata curah hujan tahunan 2500-4000 mm.
Kayu ulin tidak hanya kuat namun eksotis. Terbukti, Di Pulau Jawa, kayu yang dikenal dengan nama kayu besi itu biasa digunakan untuk bantalan rel kereta api. Selain itu, Kayu ulin banyak digunakan sebagai konstruksi bangunan berupa tiang bangunan, atap kayu (sirap), papan lantai, kosen pintu dan jendela, bahan untuk bangunan jembatan, dan kegunaan lain yang memerlukan sifat-sifat khusus awet dan kuat. tak sekadar bernilai ekonomis tinggi dari nilai kayunya, ternyata ulin juga dapat dijadikan sebagai pohon obat. Ada tiga jenis bagian dari kayu ulin yang bisa dimanfaatkan untuk obat-obatan yaitu daun muda, esktrak biji, dan buahnya. Sementara itu, bagi pengrajin batu perhiasan, ternyata kayu ulin yang telah membatu dapat diasah menjadi perhiasan yang tidak kalah dengan batu-batu yang telah dikenal. Harganyanya pun tergolong mahal, yaitu berkisar antara tiga puluh lima ribu rupiah hingga jutaan rupiah.
 Namun, siapa sangka dibalik multi manfaat yang disuguhkan oleh pohon ulin, ternyata tersimpan sekelumit masalah besar yang harus diselesaikan bersama. Kepunahan spesies ini semakin tampak di pelupuk mata. Exploitasi penebangan kayu yang kurang terkontrol dimasa lalu, serta disebabkan pula adanya kebakaran hutan, membuat populasi pohon ulin menyusut drastis. Apalagi, Ulin termasuk pohon yang sulit berkembang di tempat terbuka. Pohon ini termasuk vegetasi yang berkembang lambat. Dalam satu tahun, diameter pohon kurang dari 1 cm. Ini berbeda dengan meranti yang bisa mencapai 1,5-2 cm. Pada usia 40 tahun diameter ulin mencapai 36 cm. Baru pada usia 100 tahun diameter ulin bisa 50 cm. Karena perkembangannya yang tergolong lambat itulah jarang sekali ada masyarakat yang mengembangkannya. Kalaupun ada hanya sebagai tanaman sampingan dari lahan kosong mereka.
Sekarang untuk mencari pohon ulin berdiameter 20 sentimeter sulit sekali. Saat pohon berdiameter 10 cm sudah ada orang yang menebangnya. Data Balai TN Kutai menyebutkan bahwa sampai 2004 kebakaran akibat kelalaian manusia telah merusak sekitar 146.080 Ha atau 80 persen dari luas kawasan itu.
Kerusakan itu diperparah lagi oleh pembalakan liar dan perambahan, terbukti selama 2001-2004, jumlah kayu ilegal yang disita mencapai 246.082 meter kubik (M3). Balai memperkirakan kerugian negara mencapai Rp271,6 miliar. Data ini belum termasuk kasus pada 2007 dan 2008. Kenyataan dilapangan juga menunjukkan bahwa populasi pohon ulin semakin terancam punah. Buktinya, terlihat dari keberadaan kayu ulin di pasaran, terutama pada kios bangunan. Harga bahan bangunan untuk jenis kayu ulin di gudang kayu log nasional Kaltim sendiri sudah melangit antara Rp2 juta sampai Rp2,5 juta per meter kubik. Hal itu menandakan bahwa keberadaan kayu ulin kian langka. Jika hal ini terus - menerus dibiarkan, tak dapat dipungkiri jika lima belas tahun kedepan pohon ulin hanya tinggal sejarah.
Untuk menghentikan kerusakan hutan, terutama menyelamatkan populasi pohon ulin dari jurang kepunahan, tentunya diperlukan usaha bersama untuk melestarikan. Apalagi, pengembangbiakan kayu ulin sangat sulit dan butuh perlakukan khusus karena pohon ini tidak bisa tumbuh pada semua kawasan hutan Biasanya tumbuh pada dataran tinggi dengan tanah berpasir. Pengembangbiakan secara benih sangat sulit. Buah pohon ini sama kerasnya dengan kayu ulin sehingga untuk membelahnya hanya bisa digergaji karena mata kampak yang tajam pun akan terpental, sehingga pengembangbiakannya hanya dengan cara indukan. Mengingat betapa sulitnya mengembangkan pohon ini, kita seharusnya berupaya melindungi pohon ini, bukannya berlomba meraup keuntungan sebanyak-banyaknya di tengah nasib ulin yang sudah di ujung tanduk ini.   






KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1.      Pohon ulin termasuk jenis pohon besar yang tingginya dapat mencapai 50 m dengan diameter samapi 120 cm, tumbuh pada dataran rendah sampai ketinggian 400 m dpl. Jenis kayu dari pohon ulin ini sangat kuat dan tidak mudah lapuk.
2.      Kayu ulin tidak hanya kuat namun eksotis sehingga banyak digunakan sebagai konstruksi bangunan yang menjadikannya mempunyai nilai ekonomis yang tinggi.
3.      Pulasi pohon ulin menyusut drastis karna Exploitasi penebangan kayu yang kurang terkontrol dimasa lalu menyebabkan populasi tanaman ulin semakin terancam.
4.      Di perlukan usaha bersama Untuk menghentikan kerusakan hutan, terutama menyelamatkan populasi pohon ulin dari jurang kepunahan, tentunya untuk melestarikannya.
Saran
Untuk menjaga kelestarian pohon ulin maka sebaiknya perlu adanya usaha pelestarian bersama untuk menghentikan kerusakan hutan dan menjaga pupolasi tanaman ulin agar tidak hilang dari kawasan hutan Indonesia terutama Kalimantan.


DAFTAR PUSTAKA
Abdurachman. 2005. Pertumbuhan Diameter Jenis Ulin (Eusideroxylonzwageri Teijsm. & Binn) di Hutan Alam Labanan. Buletin Loupe. Samarinda.

Hakim, L dan Prastyono. 2005. Konservasi Budidaya Ulin. Pusat Litbang Hutan Tanaman. Pusat Litbang Hutan Tanaman Yogyakarta. Yogyakarta.
Heyne, K. 2005. Tumbuhan Berguna Indonesia II. Yayasan Sarana Wanajaya. Jakarta.
Sastrapradja, S., K. Kartawinata, Roemantyo, U.Soetisna, H. Wiriadinata, dan S. Riswan. 1977. Jenis-jenis Kayu Indonesia. Lembaga Biologi Nasional -LIPI. Bogor.
Siyasa, K & N, Juliaty. 2001. Pelestarian Ulin; Aspek pemanfaatan,Budidaya dan Konservasi. Makalah pada Lokakarya Pelestarian species flora langka (ulin), Bapedalda Prop. Kalimantan Timur.
Mogea, J.P., D. Gandawidjaja, H. Wiriadinata, R.E. Nasution, dan Irawati. 200l. Tumbuhan Langka Indonesia. Pusat Penelitian dan Pengembangan Biologi -LIPI. Bogor.







DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI............................................................................................................ i
PENDAHULUAN.................................................................................................. 1
Latar Belakang ............................................................................................. 1
           Tujuan............................................................................................................ 3
TINJAUAN PUSTAKA......................................................................................... 4
PEMBAHASAN..................................................................................................... 7
KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................................... 11
          Kesimpulan.................................................................................................. 11
          Saran............................................................................................................ 11
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................    12




PENELITIAN TENTANG POHON ULIN
(Tugas Makalah Dasar Agronomi)










Oleh :
HENDRA MANYU (E1A213069)
JURKANI (E1A213070)
TIARA ANGGRAINI (E1A213071)





PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGIJ
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU


2014

1 komentar: