Pages

Rabu, 23 Desember 2015

MAKALAH KEMASAMAN TANAH

MAKALAH
RAKSI TANAH MASAM




                              








Oleh
JURKANI
NIM E1A213070






PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU

2015


PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Di Indonesia umumnya tanahnya bereaksi masam dengan 4,0 – 5,5 sehingga tanah dengan pH 6,0 – 6,5 sering telah dikatakan cukup netral meskipun sebenarnya masih agak masam. Di daerah rawa-rawa sering ditemukan tanah-tanah sangat masam dengan pH kurang dari 3,0 yang disebut tanah sangat masam karena banyak mengandung asam sulfat.
Pada umumnya reaksi tanah baik tanah gambut maupun tanah mineral menunjukkan sifat kemasaman atau alkalinitas tanah yang dinyatakan dengan nilai pH. Nilai pH menunjukkan banyaknya konsentrasi ion Hidrogen (H+) di dalam tanah. Makin tinggi kadar ion H+ di dalam tanah, semakin masam tanah tersebut. Di dalam tanah selain H+ dan ionion lain ditemukan pula ion OH-, yang jumlahnya sebanding dengan banyaknya H+. Pada tanahtanah masam jumlah ion H+ lebih tinggi daripada OH-. Sedangkan pada tanah alkalis kandungan OH- lebih banyak daripada H+. Bila kandungan H+ sama dengan OH- maka tanah bereaksi netral yaitu mempunyai pH 7.
Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memberikan pemahaman kepada mahasiswa tentang pengertian reaksi tanah (pH tanah ), dan tanah masam, dan mampu mengetahui sifat kemasaman tanah dan ciri-ciri tanah yang masam.


TINJAUAN PUSTAKA
Pengertian pH Tanah Reaksi tanah menunjukkan sifat kemasaman atau alkalinitas tanah yang dinyatakan dengan nilai pH. Nilai pH menunjukkan banyaknya konsentrasi ion hidrogen (H+ di dalam tanah). Makin tinggi kadar ion H+ di dalam tanah, semakin masam tanah tersebut. Di dalam tanah selain H+ dari ion-ion lain ditemukan pula ion OH-, yang jumlahnya berbanding terbalik dengan banyaknya H+. Pada tanah-tanah yang masam jumlah ion H+ lebih tinggi dari pada OH- , sedangkan pada tanah yang alkalis kandungan OH- lebih banyak dari pada H+. Bila jumlah  kandungan H+ sama dengan OH- maka tanah bereaksi netral yaitu mempunyai pH= 7 (Hardjowigeno, 2010).       
Nilai pH berkisar dari 0 - 14 dengan pH 7 disebut netral sedang pH kurang dari 7 disebut alkalis. Besar kisaran nilai pH tersebut didasarkan atas besarnya konstanta disosiasi air murni (Hardjowigeno, 2010).     
  Walaupun demikian pH tanah umumnya berkisar dari 3,0 - 9,0. Di Indonesia umumnya tanahnya bereaksi masam dengan pH 4,0 - 5,5 sehingga tanah dengan pH 6,0 - 6,5 sering dikatakan telah cukup netral meskipun sebenarnya masih agak masam (Hardjowigeno, 2010).       
Di daerah rawa-rawa sering ditemukan tanah yang sangat masam dengan pH kurang dari 3,0 yang disebut tanah sulfat masam (cat clay) karena banyak mengandung asam sulfat. Di daerah yang sangat kering (arid) kadang-kadang pH tanahnya sangat tinggi (pH lebih dari 9,0) karena padakeadaan tersebut banyak mengandung garam Na (Hardjowigeno, 2010).       
Tanah dapat diubah pH-nya jika terlalu masam ataupun sangat alkalis. Untuk yang masam dapat dinaikkan pH-nya dengan penambahan kapur ke dalam tanah, sedangkan untuk tanah yang terlalu alkalis dapat diturunkan pH-nya dengan penambahan belerang (Hardjowigeno, 2010).       
Permasalahan Tanah dan Hubungannya dengan pH Kondisi pH tanah mempengaruhi serapan unsur hara dan pertumbuhan tanaman melalui pengaruhnya terhadap ketersediaan unsur hara dan adanya unsur-unsur yang beracun. Beberapa unsur hara fungsional seperti besi, mangan, dan seng berkurang apabila pH dinaikan dari 5.0 menjadi 7.5 atau 8.0. Molibdenium berkurang ketersediannya bila pH diturunkan. Pada pH kurang dari 5.0 besi dan mangan menjadi larut dalam jumlah cukup banyak yang dapat menyebabkan tanaman keracunan. Pada pH yang sangat tinggi, ion bikarbonat akan dijumpai dalam jumlah banyak sehingga dapat menggangu serapan normal unsur lain dan sangat merugikan pertumbuhan tanaman (Soepardi 1983).













BAHAN DAN METODE
ALAT DAN BAHAN
1.      Alat.
 Adapun alat-alat yang digunakan pada praktikum Reaksi Tanah  adalah timbangan, pH meter, dan tempat roll film.
2.      Bahan.
Adapun bahan yang di gunakan adalah bahan-bahan yang digunakan pada praktikum Reaksi Tanah Masam adalah sampel tanah terganggu lapisan I, II, dan  III, aquades, tissu rol, kertas label.
Prosedur Kerja
Langkah-langkah yang dilakukan dalam percobaan Reaksi Tanah adalah dengan metode elektrometris, sebagai berikut:
1.       Memasukkan 10 gram tanah halus ke dalam tabung reaksi atau tempat roll film dan menambahkan air suling 10 ml (rasio 1 : 2)
2.      Mengocok selama 30 jam dengan digoyang-goyangkan, kemudian mendiamkan selama 1 menit.
3.      Mengukur pH dengan pH meter.







ANALISIS DAN SINTESIS
Kemasaman tanah atau pH adalah derajat keasaman yang digunakan untuk menyatakan tingkat keasaman atau kebasaan yang dimiliki oleh suatu larutan dalam tanah. Ia didefinisikan sebagai kologaritma aktivitas ion hidrogen (H+) yang terlarut. Sejumlah proses dalam tanah dipengaruhi oleh reaksi tanah dan biokimia tanah yang berlansung spesifik. Pengaruh lansung terhadap laju dekomposisi mineral tanah dan bahan organik, pembentukan mineral lempung bahkan pertumbuhan tanaman. Pengaruh tidak lansungnya terhadap kelarutan dan ketersediaan hara tanaman. sebagai contoh perubahan konsentrasi fosfat dengan perubahan pH tanah. Konsentrasi ion H+ yang tinggi bisa meracun bagi tanaman.
Secara teoritis, angka pH berkisar antara 1 sampai 14. Angka satu berarti kepekatan ion hidrogen di dalam tanah ada 10 1 atau 1/10 gmol/l. Tanah pada kepekatan ini sangat asam. Sementara angka 14 berarti kepekatan ion hidrogennya 1014 gmol/l. Tanah pada angka kepekatan ini sangat basa. Koefisien aktivitas ion hidrogen tidak dapat diukur secara eksperimental, sehingga nilainya didasarkan pada perhitungan teoritis. Skala pH bukanlah skala absolut. Ia bersifat relatif terhadap sekumpulan larutan standar yang pH-nya ditentukan berdasarkan persetujuan internasional.
Tanah masam adalah tanah yang memiliki nilai PH kurang dari 5,5, baik berupa lahan kering maupun lahan basah, semakin rendah pH tanahnya maka semakin ekstrim kemasamannya. Keasaman tanah ditentukan oleh kadar atau kepekatan  ion hidrogen di dalam tanahtersebut.  Bila kepekatan ion hidrogen di dalam tanah  terlalu tinggi maka tanah akan bereaksi asam, sebaliknya bila kepekatan ion hidrogen terlalu rendah maka tanah akan bereaksi basa.  Pada kondisi ini kadar kation OH- lebih tinggi dari ion H+.
Adapun hasil yang diperoleh berdasarkan praktikum Bulk Density adalah sebagai berikut.
Tabel 1. Hasil Praktikum Reaksi
Lapisan Tanah
Tanah pH
tanah Lapisan I
3,20
Lapisan II
3,14
Lapisan III
3,25
Sumber : Data Primer 2011 4.2. Pembahasan  
 
Berdasarkan hasil pengamatan di atas, maka lapisan I pH-nya sebesar 3,20. Hal ini berarti tanah tersebut bersifat sangat masam karena pH tanah berada pada < 4,5 sehingga tanah bersifat sangat masam. Sesuai pendapat Pairunan, dkk. (1985) bahwa Kelas kemasaman tanah ada 6 macam, yaitu < 4,5 sangat masam, 4,5 - 5,5 masam, 5,6 - 6,5 agak masam, 6,6 - 7,5 netral, 7,6 - 8,5 agak alkalis, dan < 8,5 alkalis. Lapisan II pH-nya sebesar 3,14. Hal ini berarti tanah tersebut bersifat sangat masam karena pH tanah berada pada < 4,5 sehingga tanah bersifat sangat masam. Sesuai pendapat Pairunan, dkk. (1985) bahwa Kelas kemasaman tanah ada 6 macam, yaitu < 4,5 sangat masam, 4,5 - 5,5 masam, 5,6 - 6,5 agak masam, 6,6 - 7,5 netral, 7,6 - 8,5 agak alkalis, dan < 8,5 alkalis. Hal ini disebabkan semakin kecil kejenuhan basa, semakin masam pula reaksi tanah tersebut atau pH-nya semakin rendah. Kejenuhan basa 100% mencerminkan pH tanah yang netral, kurang dari itu mengarah ke pH tanah masam, sedangkan lebih dari itu mengarah ke basa (Hakim dkk,1986)
 Lapisan III pH-nya sebesar 3,25. Hal ini berarti tanah tersebut bersifat sangat masam karena pH tanah berada pada < 4,5 sehingga tanah bersifat sangat masam. Sesuai pendapat Pairunan, dkk. (1985) bahwa Kelas kemasaman tanah ada 6 macam, yaitu < 4,5 sangat masam, 4,5 - 5,5 masam, 5,6 - 6,5 agak masam, 6,6 - 7,5 netral, 7,6 - 8,5 agak alkalis, dan < 8,5 alkalis.         
Faktor-faktor lain yang mempengaruhi  tingkat kemasaman tanah yaitu pencucian basa, mineralisasi atau dekomposisi bahan organik, respirasi akar yang menghasilkan CO2 dan pemberian pupuk yang bereaksi masam dalam tanah (Pairunan, dkk, 1985).


KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan yang diperoleh, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut.
1. Lapisan I memiliki pH sebesar 3,20 dan bersifat sangat masam.
2. Lapisan II memiliki pH sebesar 3,14 dan bersifat sangat masam.
3. Lapisan III memiliki pH sebesar 3,25 dan bersifat sangat masam.
 4. Faktor-faktor yang mempengaruhi reaksi tanah yaitu kejenuhan basa, macam kation terjerap, curah hujan, pemupukan, perbandingan air dengan tanah, kandungan garam-garam dalam larutan tanah, dan keseimbangan CO2 udara dan CO2 tanah 5.2  Saran Apabila tanah sangat masam/ agak masam / masam, maka sebaiknya ditambahkan dengan kapur agar tanah menjadi netral dan apabila tanah agak alkalis / alkalis, maka sebaiknya ditambahkan dengan belerang / sulfur, agar tanah menjadi netral, karena tanaman dapat tumbuh dengan baik apabila pH suatu tanah netral.
Saran
Untuk penanaman tanaman perlu memperhatikan kondisi tanahnya, karena tanah sangat berpengaruh dalam pertumbuhan tanaman itu sendiri, jika tanahnya terlalu masam atau terlalu alkalis maka peetumbuhanya akan terhambat dan bisa menyebabkan kematian akibat unsur hara tanaman dalam tanah sedikit atau kurang.





DAFTAR ISI
       Halaman
DAFTAR ISI...........................................................................................                i
PENDAHULUAN...................................................................................               1   
              Latar Belakang............................................................................               1
              Tujuan..........................................................................................               1
TINJAUAN PUSTAKA.........................................................................               3
BAHAN DAN METODE.......................................................................               4
              Bahan dan Alat...........................................................................               4
              Waktu dan Tempat......................................................................               4
              Metode........................................................................................               4
ANALISIS DAN SINTESIS..................................................................               5
              Hasil............................................................................................               5
              Pembahasan.................................................................................               6
PENUTUP ..............................................................................................               8
Kesimpulan.............................................................................................   8
Saran.......................................................................................................   8
DAFTAR PUSTAKA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar