MAKALAH
RAKSI TANAH MASAM
Oleh
JURKANI
NIM E1A213070
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2015
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Di Indonesia umumnya tanahnya bereaksi masam dengan 4,0 – 5,5 sehingga
tanah dengan pH 6,0 – 6,5 sering telah dikatakan cukup netral meskipun
sebenarnya masih agak masam. Di daerah rawa-rawa sering ditemukan tanah-tanah
sangat masam dengan pH kurang dari 3,0 yang disebut tanah sangat masam karena
banyak mengandung asam sulfat.
Pada umumnya reaksi tanah baik tanah gambut maupun tanah mineral
menunjukkan sifat kemasaman atau alkalinitas tanah yang dinyatakan dengan nilai
pH. Nilai pH menunjukkan banyaknya konsentrasi ion Hidrogen (H+) di dalam
tanah. Makin tinggi kadar ion H+ di dalam tanah, semakin masam tanah tersebut.
Di dalam tanah selain H+ dan ion‑ion lain ditemukan pula ion OH-, yang
jumlahnya sebanding dengan banyaknya H+. Pada tanah‑tanah masam jumlah
ion H+ lebih tinggi daripada OH-. Sedangkan pada tanah alkalis kandungan OH-
lebih banyak daripada H+. Bila kandungan H+ sama dengan OH- maka tanah bereaksi
netral yaitu mempunyai pH 7.
Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memberikan pemahaman
kepada mahasiswa tentang pengertian reaksi tanah (pH tanah ), dan tanah masam,
dan mampu mengetahui sifat kemasaman tanah dan ciri-ciri tanah yang masam.
TINJAUAN PUSTAKA
Pengertian pH Tanah Reaksi tanah menunjukkan sifat kemasaman atau
alkalinitas tanah yang dinyatakan dengan nilai pH. Nilai pH menunjukkan
banyaknya konsentrasi ion hidrogen (H+ di dalam tanah). Makin tinggi kadar ion
H+ di dalam tanah, semakin masam tanah tersebut. Di dalam tanah selain H+ dari
ion-ion lain ditemukan pula ion OH-, yang jumlahnya berbanding terbalik dengan
banyaknya H+. Pada tanah-tanah yang masam jumlah ion H+ lebih tinggi dari pada
OH- , sedangkan pada tanah yang alkalis kandungan OH- lebih banyak dari pada
H+. Bila jumlah kandungan H+ sama dengan
OH- maka tanah bereaksi netral yaitu mempunyai pH= 7 (Hardjowigeno, 2010).
Nilai pH berkisar dari 0 - 14 dengan pH 7 disebut netral sedang pH
kurang dari 7 disebut alkalis. Besar kisaran nilai pH tersebut didasarkan atas
besarnya konstanta disosiasi air murni (Hardjowigeno, 2010).
Walaupun demikian pH tanah
umumnya berkisar dari 3,0 - 9,0. Di Indonesia umumnya tanahnya bereaksi masam
dengan pH 4,0 - 5,5 sehingga tanah dengan pH 6,0 - 6,5 sering dikatakan telah
cukup netral meskipun sebenarnya masih agak masam (Hardjowigeno, 2010).
Di daerah rawa-rawa sering ditemukan tanah yang sangat masam dengan pH
kurang dari 3,0 yang disebut tanah sulfat masam (cat clay) karena banyak
mengandung asam sulfat. Di daerah yang sangat kering (arid) kadang-kadang pH tanahnya
sangat tinggi (pH lebih dari 9,0) karena padakeadaan tersebut banyak mengandung
garam Na (Hardjowigeno, 2010).
Tanah dapat diubah pH-nya jika terlalu masam ataupun sangat alkalis.
Untuk yang masam dapat dinaikkan pH-nya dengan penambahan kapur ke dalam tanah,
sedangkan untuk tanah yang terlalu alkalis dapat diturunkan pH-nya dengan
penambahan belerang (Hardjowigeno, 2010).
Permasalahan Tanah dan Hubungannya dengan pH Kondisi pH tanah
mempengaruhi serapan unsur hara dan pertumbuhan tanaman melalui pengaruhnya
terhadap ketersediaan unsur hara dan adanya unsur-unsur yang beracun. Beberapa
unsur hara fungsional seperti besi, mangan, dan seng berkurang apabila pH
dinaikan dari 5.0 menjadi 7.5 atau 8.0. Molibdenium berkurang ketersediannya bila
pH diturunkan. Pada pH kurang dari 5.0 besi dan mangan menjadi larut dalam
jumlah cukup banyak yang dapat menyebabkan tanaman keracunan. Pada pH yang
sangat tinggi, ion bikarbonat akan dijumpai dalam jumlah banyak sehingga dapat
menggangu serapan normal unsur lain dan sangat merugikan pertumbuhan tanaman
(Soepardi 1983).
BAHAN DAN METODE
ALAT DAN BAHAN
1. Alat.
Adapun alat-alat yang digunakan
pada praktikum Reaksi Tanah adalah
timbangan, pH meter, dan tempat roll film.
2.
Bahan.
Adapun bahan yang di gunakan adalah bahan-bahan yang digunakan pada
praktikum Reaksi Tanah Masam adalah sampel tanah terganggu lapisan I, II,
dan III, aquades, tissu rol, kertas
label.
Prosedur Kerja
Langkah-langkah yang dilakukan dalam percobaan Reaksi Tanah adalah
dengan metode elektrometris, sebagai berikut:
1.
Memasukkan 10 gram tanah halus ke dalam tabung
reaksi atau tempat roll film dan menambahkan air suling 10 ml (rasio 1 : 2)
2.
Mengocok
selama 30 jam dengan digoyang-goyangkan, kemudian mendiamkan selama 1 menit.
3.
Mengukur
pH dengan pH meter.
ANALISIS DAN SINTESIS
Kemasaman tanah atau pH adalah derajat keasaman yang digunakan untuk
menyatakan tingkat keasaman atau kebasaan yang dimiliki oleh suatu larutan
dalam tanah. Ia didefinisikan sebagai kologaritma aktivitas ion hidrogen (H+)
yang terlarut. Sejumlah proses dalam tanah dipengaruhi oleh reaksi tanah dan
biokimia tanah yang berlansung spesifik. Pengaruh lansung terhadap laju
dekomposisi mineral tanah dan bahan organik, pembentukan mineral lempung bahkan
pertumbuhan tanaman. Pengaruh tidak lansungnya terhadap kelarutan dan
ketersediaan hara tanaman. sebagai contoh perubahan konsentrasi fosfat dengan
perubahan pH tanah. Konsentrasi ion H+ yang tinggi bisa meracun bagi tanaman.
Secara teoritis, angka pH berkisar antara 1 sampai 14. Angka satu
berarti kepekatan ion hidrogen di dalam tanah ada 10 ‑ 1 atau 1/10 gmol/l.
Tanah pada kepekatan ini sangat asam. Sementara angka 14 berarti kepekatan ion
hidrogennya 10‑14 gmol/l. Tanah pada angka kepekatan ini sangat basa. Koefisien
aktivitas ion hidrogen tidak dapat diukur secara eksperimental, sehingga
nilainya didasarkan pada perhitungan teoritis. Skala pH bukanlah skala absolut.
Ia bersifat relatif terhadap sekumpulan larutan standar yang pH-nya ditentukan
berdasarkan persetujuan internasional.
Tanah masam adalah tanah yang memiliki nilai PH kurang dari 5,5, baik
berupa lahan kering maupun lahan basah, semakin rendah pH tanahnya maka semakin
ekstrim kemasamannya. Keasaman tanah ditentukan oleh kadar atau kepekatan ion hidrogen di dalam tanahtersebut. Bila kepekatan ion hidrogen di dalam
tanah terlalu tinggi maka tanah akan
bereaksi asam, sebaliknya bila kepekatan ion hidrogen terlalu rendah maka tanah
akan bereaksi basa. Pada kondisi ini
kadar kation OH- lebih tinggi dari ion H+.
Adapun hasil yang diperoleh berdasarkan praktikum Bulk Density adalah
sebagai berikut.
Tabel 1.
Hasil Praktikum Reaksi
Lapisan Tanah
|
Tanah pH
|
tanah Lapisan I
|
3,20
|
Lapisan II
|
3,14
|
Lapisan III
|
3,25
|
Sumber : Data Primer 2011 4.2. Pembahasan
Berdasarkan hasil pengamatan di atas, maka lapisan I pH-nya sebesar
3,20. Hal ini berarti tanah tersebut bersifat sangat masam karena pH tanah
berada pada < 4,5 sehingga tanah bersifat sangat masam. Sesuai pendapat
Pairunan, dkk. (1985) bahwa Kelas kemasaman tanah ada 6 macam, yaitu < 4,5
sangat masam, 4,5 - 5,5 masam, 5,6 - 6,5 agak masam, 6,6 - 7,5 netral, 7,6 -
8,5 agak alkalis, dan < 8,5 alkalis. Lapisan II pH-nya sebesar 3,14. Hal ini
berarti tanah tersebut bersifat sangat masam karena pH tanah berada pada <
4,5 sehingga tanah bersifat sangat masam. Sesuai pendapat Pairunan, dkk. (1985)
bahwa Kelas kemasaman tanah ada 6 macam, yaitu < 4,5 sangat masam, 4,5 - 5,5
masam, 5,6 - 6,5 agak masam, 6,6 - 7,5 netral, 7,6 - 8,5 agak alkalis, dan <
8,5 alkalis. Hal ini disebabkan semakin kecil kejenuhan basa, semakin masam
pula reaksi tanah tersebut atau pH-nya semakin rendah. Kejenuhan basa 100%
mencerminkan pH tanah yang netral, kurang dari itu mengarah ke pH tanah masam,
sedangkan lebih dari itu mengarah ke basa (Hakim dkk,1986)
Lapisan III pH-nya sebesar
3,25. Hal ini berarti tanah tersebut bersifat sangat masam karena pH tanah
berada pada < 4,5 sehingga tanah bersifat sangat masam. Sesuai pendapat
Pairunan, dkk. (1985) bahwa Kelas kemasaman tanah ada 6 macam, yaitu < 4,5
sangat masam, 4,5 - 5,5 masam, 5,6 - 6,5 agak masam, 6,6 - 7,5 netral, 7,6 -
8,5 agak alkalis, dan < 8,5 alkalis.
Faktor-faktor lain yang mempengaruhi
tingkat kemasaman tanah yaitu pencucian basa, mineralisasi atau
dekomposisi bahan organik, respirasi akar yang menghasilkan CO2 dan pemberian
pupuk yang bereaksi masam dalam tanah (Pairunan, dkk, 1985).
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan yang diperoleh, maka dapat
ditarik kesimpulan sebagai berikut.
1. Lapisan I memiliki pH sebesar 3,20 dan bersifat sangat masam.
2. Lapisan II memiliki pH sebesar 3,14 dan bersifat sangat masam.
3. Lapisan III memiliki pH sebesar 3,25 dan bersifat sangat masam.
4. Faktor-faktor yang
mempengaruhi reaksi tanah yaitu kejenuhan basa, macam kation terjerap, curah
hujan, pemupukan, perbandingan air dengan tanah, kandungan garam-garam dalam
larutan tanah, dan keseimbangan CO2 udara dan CO2 tanah 5.2 Saran Apabila tanah sangat masam/ agak masam
/ masam, maka sebaiknya ditambahkan dengan kapur agar tanah menjadi netral dan
apabila tanah agak alkalis / alkalis, maka sebaiknya ditambahkan dengan
belerang / sulfur, agar tanah menjadi netral, karena tanaman dapat tumbuh
dengan baik apabila pH suatu tanah netral.
Saran
Untuk penanaman tanaman perlu memperhatikan kondisi tanahnya, karena
tanah sangat berpengaruh dalam pertumbuhan tanaman itu sendiri, jika tanahnya
terlalu masam atau terlalu alkalis maka peetumbuhanya akan terhambat dan bisa
menyebabkan kematian akibat unsur hara tanaman dalam tanah sedikit atau kurang.
Halaman
DAFTAR ISI........................................................................................... i
PENDAHULUAN................................................................................... 1
Latar
Belakang............................................................................ 1
Tujuan.......................................................................................... 1
TINJAUAN
PUSTAKA......................................................................... 3
BAHAN DAN METODE....................................................................... 4
Bahan dan Alat........................................................................... 4
Waktu
dan Tempat...................................................................... 4
Metode........................................................................................ 4
ANALISIS DAN SINTESIS.................................................................. 5
Hasil............................................................................................ 5
Pembahasan................................................................................. 6
PENUTUP .............................................................................................. 8
Kesimpulan............................................................................................. 8
Saran....................................................................................................... 8
DAFTAR
PUSTAKA

Tidak ada komentar:
Posting Komentar