PENDAHULUAN
Latar Belakang
Degradasi hutan
Indonesia terus berlanjut, dengan demikian maka Indonesia terancam kehilangan berbagai
macam pohon
hutan yang sangat bermanfaat untuk generasi yang akan datang. Kegiatan
eksploitasi hutan alam yang bersifat ekstraktif guna memenuhi kebutuhan manusia
menyebabkan kemerosotan secara kualitas maupun kuantitas sumberdaya hutan,
jenis maupun ekosistem, tidak terkecuali ulin. Ulin merupakan salah satu jenis
pohon yang hampir punah sebagai akibat dari tingginya laju penebangan yang
dilakukan secara legal maupun illegal oleh masyarakat maupun perusahaan (Siyasa, 2001).
Ulin (Eusideroxylon zwageri) merupakan salah satu jenis
penyusunan hutan tropika basah yang tumbuh secara alami di wilayah Sumatera
Bagian Selatan dan Kalimantan. Jenis ini dikenal dengan nama daerah : bulian,
bulian rambai, onglen, belian, tabulin dan telian. Pohon ulin termasuk jenis
pohon besar yang tingginya dapat mencapai 50 m dengan diameter samapi 120 cm,
tumbuh pada dataran rendah sampai ketinggian 400 m dpl. Jenis
kayu dari pohon ulin ini tidak mudah lapuk baik di air maupun daratan. Itulah
sebabnya kayu ini banyak dipakai sebagai bahan bangunan khususnya untuk rumah
yang didirikan di atas tanah yang
tergenang. Tanaman ini sering di gunakan sebagai tiang
bangunan, sirap, papan lantai, jembatan, bantalan kereta api dan kegunaan lain
yang memerlukan sifat-sifat khusus awet dan kuat. Dalam rangka pengembangan
tanaman ulin, diperlukan informasi dan kajian budidaya yang tepat sesuai dengan
karakteristik tempat hidupnya (Mogea, 200l.)
Pohon Ulin merupakan
tanaman khas Kalimantan yang keberadaannya saat ini sudah mulai langka dan jarang
ditemui, hal ini disebabkan oleh penebangan liar yang memanfaatkan pohan
tersebut sebagai bahan bangunan, selain itu pertumbuhan tanaman ini juga
terbilang lambat rata2 pertumbuhan antara 0,60 – 3 m. Tanaman ulin pada umumnya
memiliki tinggi diameter batang antara 60-120 cm, sedangkan tinggi batang pada
umumnya berkisar antara 20-30 m. Batang tanaman ulin biasanya tumbuh lurus.
Tajuk pohon tanaman ulin berbentuk bulat, rapat dan melebar, susunan daun ulin
beselangseling, daun muda berwarna merah dansetelah tua berwarna hijau (Sastrapradja, 1977).
Nama ulin meroket seiring
dengan fungsinya yang meluas. Belakangan, begitu sulit menemukan pohon yang
satu ini, meskipun di habitat asalnya, Kalimantan. Eksploitasi besar-besaran
ulin di masa lalu membuat pohon ini musnah di beberapa negara, dan
menjadikannya flora yang dilindungi di tanah air. Perdagangan dan
pemanfaatannya mendapat pengawasan ketat dari pemerintah, karena ulin memiliki
pertumbuhan yang lambat tak
hanya pertumbuhan diameternya yang sangat lambat. Untuk mempercepat munculnya
tunas, bijinya yang berukuran besar seperti buah mentimun dan keras sehingga
perkecambahan memerlukan waktu yang sangat lama,
sehingga untuk usahakomersial jenis ini kurang diminati, sementara besarnya
minat masyarakat terhadap jenis ini sangat besar, sehingga dikhawatirkan jenis
ini akan musnah, dengan demikian diperlukan usaha-usaha penanaman untuk
pelestarian jenis tanaman ini (Mogea, 200l).
Dengan semakin langka dan proses pertumbuhan yang sangat lambat maka di
harapkan masyarakat dapat menjaga kelestarian tanaman ini. Karna banyak hutan yang
saat ini telah di eksploitasi sehingga kemungkinan akan mengalami degredasi
yang dapat menyebabkan punahnya jenis tanaman ini (Siyasa, 2001).
Tujuan Praktikum
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan
mengenal tentang pohon ulin yang menjadi ciri khas hutan Kalimantan.
Tinjauan Pustaka
Ulin atau disebut juga
dengan bulian atau kayu besi adalah pohon berkayu dan merupakan tanaman khas
Kalimantan. Kayu ulin terutama dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, seperti
konstruksi rumah, jembatan, tiang listrik, dan perkapalan. Ulin merupakan salah
satu jenis kayu hutan tropika basah yang tumbuh secara alami di wilayah Sumatera
bagian selatan dan Kalimantan (Sastrapradja,
1977).
Ulin termasuk jenis pohon
besar yang tingginya dapat mencapai 50 m dengan diameter sampai 120 cm . Pohon
ini tumbuh pada dataran rendah sampai ketinggian 400 m. Ulin umumnya tumbuh
pada ketinggian 5 – 400 m di atas permukaan laut dengan medan datar sampai
miring, tumbuh terpencar atau mengelompok dalam hutan campuran namun sangat
jarang dijumpai di habitat rawa-rawa. Kayu Ulin juga tahan terhadap perubahan
suhu, kelembaban, dan pengaruh air laut sehingga sifat kayunya sangat berat dan
keras (Mogea,
200l).
Proses pemuliaan alami di hutan bekas tebangan umumnya kurang berjalan
dengan baik. Perkecambahan biji Ulin membutuhkan waktu cukup lama sekitar 6-12
bulan dengan persentase keberhasilan relatif rendah, produksi buah tiap pohon
umumnya juga sedikit. Penyebaran permudaan alam secara umum cenderung
mengelompok. Ulin tumbuh di dataran rendah primer dan hutan sekunder sampai
dengan ketinggian 500m. biji ulin lebih suka ditiriskan baik tanah, tanah liat
berpasir ke tanah liat, kadang-kadang batu kapur (Siyasa, 2001).
Di Kalimantan, kayu ulin
sudah di pakai sebagai bahan utama untuk membuat rumah, khususnya dikalangan
suku Dayak. Kayu ulin yang bagus untuk dijadikan bahan baku rumah ialah kayu
ulin yang sudah tua. Semakin tua umur kayu ulin, semakin keras kayunya (Sastrapradja, 1977).
Saat ini kayu ulin sudah
langka. Hal ini disebabkan oleh lambatnya pertumbuhan, tingkat keberhasilan
perkecambahan yang kecil, serta pembalakan hutan liar. Dikhawatirkan jika tidak
segera dilestarikan, kayu ulin akan punah.
Salah satu ciri khas tumbuhan Kalimantan adalah Kayu Ulin nya. Dahulu penduduk asli maupun pendatang, baik yang tinggal di pingiran hutan maupun tinggal di atas air dengan rumah panggungnya , memanfaatkan kayu ulin sebagai bagian utama dari tiang, lantai rumah, pagar, patok2 tanah, atap sirap dsb. Kayu ulin mempunyai keistimewaan yang khas yaitu selain keras, berat, juga tidak lapuk kena air bahkan justru lebih tahan lama. Ulin termasuk diantara kayu yang cukup tahan akan serangan rayap (Siyasa, 2001).
Salah satu ciri khas tumbuhan Kalimantan adalah Kayu Ulin nya. Dahulu penduduk asli maupun pendatang, baik yang tinggal di pingiran hutan maupun tinggal di atas air dengan rumah panggungnya , memanfaatkan kayu ulin sebagai bagian utama dari tiang, lantai rumah, pagar, patok2 tanah, atap sirap dsb. Kayu ulin mempunyai keistimewaan yang khas yaitu selain keras, berat, juga tidak lapuk kena air bahkan justru lebih tahan lama. Ulin termasuk diantara kayu yang cukup tahan akan serangan rayap (Siyasa, 2001).
Seiring perjalanan
waktu, maka kayu ulin sekarang ini sudah cukup sulit di dapat. Exploitasi
penebangan kayu yang kurang terkontrol dimasa lalu, serta disebabkan pula
adanya kebakaran hutan, membuat populasi pohon ulin menyusut drastis. Sebagian
kayu ulin yang ada di toko kayu bahan bangunan berasal dari pohon ulin yang
usianya relatif muda, Padahal untuk menyemai s/d pohon ulin siap di tebang membutuhkan
waktu puluhan tahun (Siyasa, 2001).
Sejauh ini sepertinya belum banyak kemajuan dalam rekayasa pembudidayaan
pohon ulin agar cepat tumbuh sebagai pohon bernilai tinggi. tidak seperti pohon
jati yang kini ada varietas Jati Super yang konon sudah dapat di manfaatkan
dengan waktu tanam sekitar dari 5 – 10 tahun saja. Namun Dep Hut bukannya tidak
merintis kearah pembudi-dayaan Ulin. di sebagian daerah Kalimantan sudah ada
usaha untuk pembudidayaan pohon Ulin. Salah satu pohon ulin terbesar di Dunia
yang masih hidup berada di Taman Nasional Kutai +/- 40 Km dari Bontang dengan
diameter +/- 2.7 Meter. Sayangnya pohon ini pernah patah dan sudah berlubang di
tengahnya. Namun pohon tetap dijadikan monument hidup dari keberadaan pohon
ulin, khususnya di Kalimantan (Hakim, 2005)
Berkurangnya pasokan kayu ulin di pasaran maka ternyata juga menggeser
penggunaan atau fungsi ulin dari sebagai bahan material bangunan, kearah yang
menghasilkan nilai jual lebih tinggi seperti untuk pembuatan mebel2 dan ukiran2
serta souvenir khas motif dayak. Salah satu patokan tinggi rendahnya mebel atau
karya ukir dari ulin adalah tingkat kerumitan motif, usia kayu dan lebar papan
ulin yang digunakan. Semakin lebar papan ulin secara utuh, menunjukan semakin
tua usia kayu tsb. dan otomatis semakin mahal pula harganya. Kisaran harga
mulai dari sekitar 4 juta s/d Puluhan juta tergantung barang nya. Hal itu pula
yang ternyata 7 tahun terakhir mulai diminati oleh sebagian peminat mebel2 kayu
bermotif tradisional (Heyne, 2005)
PEMBAHASAN
Kingdom
: Plantae
Divisi
: Spermatophytha
Sub
divisi : Angiospsermae
Kelas
: Monocotyl
Ordo
: Ranales
Family
: Lauraceae
Genus
: Eusideroxylon
Species
: Eusideroxylon zwageri
Ulin termasuk jenis pohon besar yang tingginya dapat mencapai 50 m
dengan diameter sampai 120 cm. Pohon ini tumbuh pada dataran rendah sampai
ketinggian 400 m, ulin umumnya tumbuh pada ketinggian 5 – 400 m di atas
permukaan laut dengan medan datar sampai miring, tumbuh terpencar atau
mengelompok dalam hutan campuran namun sangat jarang dijumpai di habitat
rawa-rawa, kayu ulin juga tahan terhadap perubahan suhu, kelembaban, dan
pengaruh air laut sehingga sifat kayunya sangat berat dan keras.
Perkecambahan biji Ulin membutuhkan waktu cukup lama sekitar 6-12 bulan
dengan persentase keberhasilan relatif rendah, produksi buah tiap pohon umumnya
juga sedikit. Ulin tumbuh di dataran rendah primer dan hutan sekunder sampai
dengan ketinggian 500m. Biji ulin lebih suka ditiriskan baik tanah, tanah liat
berpasir ke tanah liat, kadang-kadang batu kapur. Hal ini umumnya ditemukan di
sepanjang sungai dan bukit-bukit yang berdekatan. Hal ini membutuhkan rata-rata
curah hujan tahunan 2500-4000 mm.
Kayu ulin tidak hanya kuat namun eksotis. Terbukti, Di Pulau Jawa, kayu
yang dikenal dengan nama kayu besi itu biasa digunakan untuk bantalan rel
kereta api. Selain itu, Kayu ulin banyak digunakan sebagai konstruksi bangunan
berupa tiang bangunan, atap kayu (sirap), papan lantai, kosen pintu dan
jendela, bahan untuk bangunan jembatan, dan kegunaan lain yang memerlukan
sifat-sifat khusus awet dan kuat. tak sekadar bernilai ekonomis tinggi dari
nilai kayunya, ternyata ulin juga dapat dijadikan sebagai pohon obat. Ada tiga
jenis bagian dari kayu ulin yang bisa dimanfaatkan untuk obat-obatan yaitu daun
muda, esktrak biji, dan buahnya. Sementara itu, bagi pengrajin batu perhiasan,
ternyata kayu ulin yang telah membatu dapat diasah menjadi perhiasan yang tidak
kalah dengan batu-batu yang telah dikenal. Harganyanya pun tergolong mahal,
yaitu berkisar antara tiga puluh lima ribu rupiah hingga jutaan rupiah.
Namun, siapa sangka dibalik multi
manfaat yang disuguhkan oleh pohon ulin, ternyata tersimpan sekelumit masalah
besar yang harus diselesaikan bersama. Kepunahan spesies ini semakin tampak di
pelupuk mata. Exploitasi penebangan kayu
yang kurang terkontrol dimasa lalu, serta disebabkan pula adanya kebakaran
hutan, membuat populasi pohon ulin
menyusut drastis. Apalagi, Ulin termasuk pohon yang sulit berkembang di tempat
terbuka. Pohon ini termasuk vegetasi yang berkembang lambat. Dalam satu tahun,
diameter pohon kurang dari 1 cm. Ini berbeda dengan meranti yang bisa mencapai
1,5-2 cm. Pada usia 40 tahun diameter ulin mencapai 36 cm. Baru pada usia 100
tahun diameter ulin bisa 50 cm. Karena perkembangannya yang tergolong lambat
itulah jarang sekali ada masyarakat yang mengembangkannya. Kalaupun ada hanya
sebagai tanaman sampingan dari lahan kosong mereka.
Sekarang untuk mencari pohon ulin berdiameter 20 sentimeter sulit
sekali. Saat pohon berdiameter 10 cm sudah ada orang yang menebangnya. Data
Balai TN Kutai menyebutkan bahwa sampai 2004 kebakaran akibat kelalaian manusia
telah merusak sekitar 146.080 Ha atau 80 persen dari luas kawasan itu.
Kerusakan itu diperparah lagi oleh pembalakan liar dan perambahan, terbukti selama 2001-2004, jumlah kayu ilegal yang disita mencapai 246.082 meter kubik (M3). Balai memperkirakan kerugian negara mencapai Rp271,6 miliar. Data ini belum termasuk kasus pada 2007 dan 2008. Kenyataan dilapangan juga menunjukkan bahwa populasi pohon ulin semakin terancam punah. Buktinya, terlihat dari keberadaan kayu ulin di pasaran, terutama pada kios bangunan. Harga bahan bangunan untuk jenis kayu ulin di gudang kayu log nasional Kaltim sendiri sudah melangit antara Rp2 juta sampai Rp2,5 juta per meter kubik. Hal itu menandakan bahwa keberadaan kayu ulin kian langka. Jika hal ini terus - menerus dibiarkan, tak dapat dipungkiri jika lima belas tahun kedepan pohon ulin hanya tinggal sejarah.
Kerusakan itu diperparah lagi oleh pembalakan liar dan perambahan, terbukti selama 2001-2004, jumlah kayu ilegal yang disita mencapai 246.082 meter kubik (M3). Balai memperkirakan kerugian negara mencapai Rp271,6 miliar. Data ini belum termasuk kasus pada 2007 dan 2008. Kenyataan dilapangan juga menunjukkan bahwa populasi pohon ulin semakin terancam punah. Buktinya, terlihat dari keberadaan kayu ulin di pasaran, terutama pada kios bangunan. Harga bahan bangunan untuk jenis kayu ulin di gudang kayu log nasional Kaltim sendiri sudah melangit antara Rp2 juta sampai Rp2,5 juta per meter kubik. Hal itu menandakan bahwa keberadaan kayu ulin kian langka. Jika hal ini terus - menerus dibiarkan, tak dapat dipungkiri jika lima belas tahun kedepan pohon ulin hanya tinggal sejarah.
Untuk menghentikan kerusakan hutan, terutama menyelamatkan populasi
pohon ulin dari jurang kepunahan, tentunya diperlukan usaha bersama untuk
melestarikan. Apalagi, pengembangbiakan kayu ulin sangat sulit dan butuh
perlakukan khusus karena pohon ini tidak bisa tumbuh pada semua kawasan hutan
Biasanya tumbuh pada dataran tinggi dengan tanah berpasir. Pengembangbiakan
secara benih sangat sulit. Buah pohon ini sama kerasnya dengan kayu ulin
sehingga untuk membelahnya hanya bisa digergaji karena mata kampak yang tajam
pun akan terpental, sehingga pengembangbiakannya hanya dengan cara indukan.
Mengingat betapa sulitnya mengembangkan pohon ini, kita seharusnya berupaya
melindungi pohon ini, bukannya berlomba meraup keuntungan sebanyak-banyaknya di
tengah nasib ulin yang sudah di ujung tanduk ini.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Pohon ulin termasuk jenis pohon besar yang tingginya dapat mencapai 50 m
dengan diameter samapi 120 cm, tumbuh pada dataran rendah sampai ketinggian 400
m dpl. Jenis kayu dari pohon ulin ini sangat kuat dan tidak mudah
lapuk.
2. Kayu ulin tidak hanya kuat namun eksotis sehingga banyak digunakan
sebagai konstruksi bangunan yang menjadikannya mempunyai nilai ekonomis yang
tinggi.
3. Pulasi pohon ulin
menyusut drastis karna Exploitasi penebangan kayu yang kurang terkontrol dimasa lalu menyebabkan populasi
tanaman ulin semakin terancam.
4. Di perlukan usaha bersama Untuk menghentikan kerusakan hutan, terutama
menyelamatkan populasi pohon ulin dari jurang kepunahan, tentunya untuk
melestarikannya.
Saran
Untuk menjaga kelestarian pohon ulin maka sebaiknya
perlu adanya usaha pelestarian bersama untuk menghentikan kerusakan hutan dan
menjaga pupolasi tanaman ulin agar tidak hilang dari kawasan hutan Indonesia
terutama Kalimantan.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurachman. 2005. Pertumbuhan
Diameter Jenis Ulin (Eusideroxylonzwageri
Teijsm. & Binn) di Hutan Alam Labanan. Buletin Loupe. Samarinda.
Hakim, L dan Prastyono. 2005. Konservasi Budidaya Ulin. Pusat Litbang
Hutan Tanaman. Pusat Litbang Hutan Tanaman Yogyakarta. Yogyakarta.
Heyne, K. 2005. Tumbuhan Berguna Indonesia II. Yayasan
Sarana Wanajaya. Jakarta.
Sastrapradja, S., K. Kartawinata, Roemantyo,
U.Soetisna, H. Wiriadinata, dan S. Riswan. 1977. Jenis-jenis Kayu Indonesia. Lembaga Biologi Nasional -LIPI. Bogor.
Siyasa, K & N, Juliaty. 2001. Pelestarian Ulin; Aspek
pemanfaatan,Budidaya dan Konservasi. Makalah pada Lokakarya Pelestarian species
flora langka (ulin), Bapedalda Prop. Kalimantan Timur.
Mogea,
J.P., D. Gandawidjaja, H. Wiriadinata, R.E. Nasution, dan Irawati. 200l. Tumbuhan
Langka Indonesia. Pusat Penelitian dan Pengembangan
Biologi -LIPI. Bogor.
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI............................................................................................................ i
PENDAHULUAN.................................................................................................. 1
Latar Belakang ............................................................................................. 1
Tujuan............................................................................................................ 3
TINJAUAN PUSTAKA......................................................................................... 4
PEMBAHASAN..................................................................................................... 7
KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................................... 11
Kesimpulan.................................................................................................. 11
Saran............................................................................................................ 11
DAFTAR
PUSTAKA....................................................................................... 12
PENELITIAN TENTANG POHON ULIN
(Tugas Makalah
Dasar Agronomi)
Oleh :
HENDRA MANYU (E1A213069)
JURKANI (E1A213070)
TIARA ANGGRAINI (E1A213071)
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGIJ
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2014
bagus artikelnya, semoga bermanfaat, amiin
BalasHapus